Disambar Tsunami di Tanjung Lesung, Saya Jadi Tahu Tuhan Begitu Dekatnya

oleh -112 views
Sore hari sebelum tsunami menerjang Tanjung Lesung, saya masih sempat bermain banana boat (duduk paling depan).

HARI INI 2 TAHUN YANG LALU, SAYA NYARIS PULANG CUMA NAMA. TSUNAMI TANJUNG LESUNG PADA 22 DESEMBER 2018, SEKITAR PUKUL 21.30 WIB, MENJADI PENGALAMAN YANG TAK BISA DILUPAKAN. DARI PERISTIWA INI, SAYA JADI TAHU KALAU TUHAN TERNYATA SANGAT DEKAT. SELAMAT JALAN BUAT BETTY DKK, …

——————————————————-
KANDIDATNEWS.COM – Saya tak menyangka ombak yang malam itu sangat indah, bergulung-gulung dari jauh, ternyata membawa malapetaka bagi kami yang tengah menikmati acara bagi-bagi door prize PP-ITKON Kemenpora. Enam orang dari kami meninggal dunia, semuanya perempuan.
Pada 21-23 Desember 2018, sekitar 50-an karyawan Kemenpora mengikuti Training Motivasion di Tanjung Lesung. Cuma saya sendiri peliputnya. Suasana ceria kami rasakan dari pagi hari (out bound), sore hari (naik banana boat dan jetksi), malam hari (hiburan debus api, organ tunggal, dan bagi-bagi door prize). Pokoknya hari itu, kami benar-benar gembira.
Kegembiraan terganggu ketika acara bagi-bagi door prize terhenti, gara-gara listrik di restoran yang kami pakai sebagai tempat acara, mati mendadak. Kami semua berteriak kecewa, terutama buat kami yang belum mendapat door prize.
Entah beberapa menit, saya yang berdiri di bagian belakang restoran ditegur oleh teman saya (ternyata Adhi Kurniadi). Saya disuruh lari. Padahal saat itu, saya yang dalam kondisi ngantuk berat, melihat ombak sangat indah, mungkin karena saya sangat ngantuk. Malam sebelumnya saya hanya tidur sekitar 1 jam. Selain gangguan nyamuk, suasana dingin membuat saya bolak-balik buang air kecil ke toilet yang jauhnya sekitar 100 meter dari tenda, sekitar 7 kali.
“Ngapain ngeliatin ombak? Lari Bang,” tegur Adhi seraya menjawil badan saya.
Saya pun ikut berlari, tanpa mengerti untuk apa berlari. Ketika teman-teman berlari ke daratan, saya yang masih belum nyadar apa yang terjadi, justru berlari ke arah laut yang jaraknya cuma sekitar 20 meter. Dalam pandangan mata saya yang masih samar,  saya mengikuti dua bayangan putih anak laki- laki dan perempuan di depan saya.
Namun baru saja melangkah sekitar 2 sampai 3 meter, ombak yang semula jaraknya sekitar 200 meter – 300 meter, tiba-tiba menghantam saya dari belakang. Saya kaget luar biasa. Rasa kantuk pun hilang seketika, berganti menjadi kalut. Dalam hati saya bilang, “Ini kah yang namanya tsunami? Saya pasti mati.”
Saya tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Anehnya, masih ada ketenangan saat dihantam dan diseret tsunami ke berbagai arah. Saya tak tahu apa yang terjadi dengan badan saya. Saya hanya tak mau mati, saya masih ingin hidup, saya  punya istri, dua orang anak, dan keluarga.
Di tengah rasa ketakutan yang begitu dahsyat, saya bertanya ke Sang Pencipta. “Ya Tuhan, selama ini Saya selalu berusaha berbuat baik kepada semua orang. Apakah umur saya hanya sampai di sini?”
Jawaban Sang Pencipta sungguh luar biasa. Baru selesai saya memohon, tiba-tiba ada benda mendekati ke tangan saya. Reflek saya tangkap benda itu erat-erat. Meskipun kondisi gelap gulita, hanya mengandalkan sinar bulan, saya tahu kalau benda itu adalah meja segi empat.
Berhasil menguasai meja di pelukan, badan saya langsung terangkat ke permukaan air. Saya pun seperti berselancar di atas tsunami. Saya hanya mengikuti ombak liar tsunami. Saya tak tahu mau dibawa kemana.
Saat berselancar itulah, saya mendengar teriakan seorang lelaki sangat keras, tak jauh dari saya yang memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk tak mengambil nyawanya.
“Ya Allah, jangan ambil nyawa saya. Anak saya dua orang, masih kecil.”
Teriakan itu terus dilontarkan dari mulutnya dengan nada ketakutan.
Entah berapa lama saya terombang-ambing di gulung ombak di atas resort Tanjung Lesung, meja kecil yang saya pegang kuat-kuat, berhenti karena menabrak sebuah pohon, sekitar 20 meter dari bibir pantai. Seandainya tak ada pohon itu, mungkin saya akan terhempas ke laut lepas.
Teman Patah-Patah
Meskipun sudah terdampar di pohon, saya tak berani beranjak. Saya bahkan sempat marah, kerena ada orang yang naik ke pohon dengan menginjak meja  yang saya jadikan tumpuan hidup. Saat itu saya mulai merasakan sakit di sekujur badan dan kaki saya sangat sakit, sulit untuk berjalan.
“Wooooii, turun. Gw tenggelem nih,” teriak saya kepada laki-laki berkaos Juventus. Ternyata dia Joe, karyawan Kemenpora.
Bukannya turun, Joe terus menginjak meja tersebut untuk naik ke pohon. Mungkin karena mendengar suara saya yang marah, dia pun turun.
Tak selang beberapa menit, ada suara perempuan memanggil saya. “Bang, Bang Kinoy, Dina Bang. Bang Kinoy, Yuli bang.”
Ternyata mereka Dina dan Yuli. Saya yang tak bisa banyak bergerak karena paha memar hebat, berusaha menolong mereka satu per satu. Pakaian yang dikenakan Dina (wanita berparas cantik, bertumbuh montok) sudah tak lengkap. Auratnya bagian bawah tak lagi ditutupi. Celana panjangnya lenyap dibawa ombak.
Beberapa menit kemudian, tinggi air memang tinggal seleher, namun adanya gas bocor dari tabung gas restoran, jaraknya hanya tiga meter, membuat kami pusing dan mual, kami segera menjauhi tempat itu.
Setelah air laut kembali ke pantai, makin ombak masih kencang. Kami berusaha mencari tempat perlindungan. Beruntung, sekitar 10 meter di depan, ada vila berlantai dua yang kosong namun kondisi dindingnya sudah jebol di hantam ombak.
Kalau untuk naik ke atas, biar kaki harus diseret karena menahan sakit, saya berusaha sekuat tenaga. Namun ada dua teman Kemenpora, Alhadi dan Yudi yang sangat butuh pertolongan. Keduanya mengalami patah kaki dan luka parah di punggung, sehingga tak bisa melangkah.
Saya mencoba menarik Alhadi yang badannya terhalang sampah kayu, tapi saya tak mampu. Saya jatuh lagi ke genangan air yang masih sebetis. Alhadi akhirnya meminta saya mengambil pelampung berbentuk jerigen air untuk dijadikan topangan tubuhnya sampai ke vila.
Sementara istri Yudi terus berteriak minta tolong. Dia mengatakan suaminya tak bisa jalan karena patah kaki. Istrinya juga meneriakan nama anaknya, Rahma, yang terpisah (Rahma akhirnya ditemukan telah meninggal dunia).
Sambil tertatih-tatih, kadang jatuh, saya mencoba menarik Yudi mendekati vila. Saat itu saya menarik Yudi dengan menarik kerah pakaiannya, sementara wajah Yudi menghadap ke air.
Mayat Bergeletakan
Bersama belasan orang, sebagian besar karyawan Kemenpora, kami berlindung di lantai dua vila tersebut. Ada yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran, ada yang menangis, ada yang berteriak memanggil nama anaknya (istri Yudi), saya berulang kali berteriak minta tolong ketika melihat ada beberapa orang mendekati vila dengan membawa senter.
Namun teriakan kami tak direspon. Mereka terus berputar-putar di area resort yang telah hancur dan masih digenangi air.
Setelah hampir satu jam berada di vila, saya mencoba mencari pertolongan. Rasa sakit di kaki kiri, berusaha saya lupakan dulu. Saya pamit ke teman-teman. Saya minta mereka memberi tahu bila melihat ombak tinggi lagi.
Teman-teman ternyata tak mau ditinggal. Mereka akhirnya turun mengikuti saya mencari tempat yang aman. Kami pun menelusuri jalan gelap, tergenang air, dan bau gas yang masih menyengat karena bocorannya belum berhenti.
Baru berjalan beberapa puluh meter, saya diberhentikan oleh beberapa laki-laki. Mereka meminta kami melihat sesosok mayat yang ditemukan tergeletak di tanah. Saya pun melihat mayat tersebut, awalnya saya menduga itu Rahma, namun saya sangat yakin mayat itu bukan Rahma. Kami pun terus menelurusi jalan licin, sampai akhirnya sampai di jalan raya. (Ternyata, mayat tersebut memang Rahma setelah Yudi mengatakan kalau saat tsunami datang, Rahma mengenakan baju ungu, seperti baju yang dikenakan mayat wanita itu).
Semobil Dengan Ivan Seventeen
Alhamdulilah kami selamat. Namun kami harus mencari bantuan untuk meminta perawatan. Kami pun meminta bantuan dengan menyetop kendaraan yang lewat. Mirisnya, pengendara yang lewat tak tahu kalau kami baru saja dilanda tsunami.
Saya bersama Sherli, salah satu karyawan Kemenpora berusia 27 tahun sangat beruntung. Kami ditolong dibawa ke Puskesmas Cigeulis, Pandeglang. Saya tak menyangka kalau di dalam mobil mewah itu ada Ivan Seventeen yang sedang mencari istri dan teman-temannya yang belum ditemukan. Dari keterangan Bayu, karyawan Resort Tanjung Lesung, dia bersama Ivan terapung-apung di laut selama dua jam.
Saya sempat mendapat perawatan di Puskesmas Cigeulis. Saya ditangani baik. Begitu sampai, saya langsung diobati, dikasih baju ganti karena baju saya basah dan rusak. Saya juga diberi obat seadanya. Ternyata saya mengalami banyak luka, terutama di kaki. Cedera saya yang parah adalah luka lebam dari betis hingga paha (baru saya ketahui setelah di Jakarta).
Karena pasien yang datang ke puskemas banyak yang lebih parah, seperti kepala bolong, telinga sobek, patah tulang, dll, saya pun menginap di salah satu rumah penduduk, Dede Rohani. Selam menunggu kepulangan ke Jakarta, 23 Desember malam, saya ditangani baik oleh keluarga Dede.
Setelah di Jakarta, saya mendapat kabar belasan teman Kemenpora dirawat di berbagai rumah sakit di Jakarta. Edi Nurindra, Kepala PP ITKON dirawat di RSON Cibubur karena luka retak di bahu, sementara dua orang anaknya di rawat di RS Islam Jakarta Timur.
Adhi Kurniadi yang menyelamatkan saya dari terjangan tsunami, dirawat di RS Koja Jakarta Timur karena retak di tangan kanan, kepala bocor, dan luka-luka di sekujur tubuh.
Sementara itu, selain Rahma, lima karyawan honorer Kemenpora yang meninggal dunia adalah Ibu Helena, Umi, Titik, Junia, dan Betty.
Khusus Betty, dia teman baik saya. Sore hari sebelum tsunami melanda, saya puas bercanda dengan dia di pantai Tanjung Lesung. Betty yang tak bisa berenang, berulang kali saya sirami wajahnya dengan air laut, kakinya saya tarik dari dalam air. Dia cuma bisa berteriak dan menjambak rambut gondrong saya. Selamat jalan Betty. (kinoy)

No More Posts Available.

No more pages to load.