Iluni FTUI: Pelebaran Sungai Menjadi Harga Mati untuk Mengatasi Banjir Jakarta

oleh -29 views
Ketua Iluni FTUI, Cindar Hari Prabowo (kemeja coklat).
Ketua Umum Iluni  FTUI, Cindar Hari Prabowo (kemeja coklat).

KANDIDATNEWS.COM – Pelebaran sungai menjadi harga mati, jika menginginkan Jakarta terbebas dari banjir. Program resapan air di permukaan tanah hanyalah penunjang untuk mengurangi volume air hujan, karena padanya akhirnya mengalir ke laut melalui 13 sungai yang melintas Jakarta. Demikian ditegaskan Ketua Umum Iluni FTUI (Fakultas Teknik Universitas Indonesia), Cindar Hari Prabowo.

“Kalau Jakarta tau mau kebanjiran lagi, yang harus dilakukan adalah memperbesar sungai-sungai, plus melarang warga mendirikan bangunan di garis sepadan sungai, sekiyar 10-25 meter. Harusnya di sekitar sungai hanya ada jalan atau taman, sehingga kalau ada banjir kiriman tidak sedahsyat ini,” kata Cindar, Senin (22/2) siang, di markas Iluni FTUI, Simprug, Jakarta Selatan.

Dia menjelaskan, memang tidak mudah memindahkan warga dari tempat tinggalnya di bantaran sungai.

“Ini bukan pekerjaan mudah untuk merelokasi warga. Juga dibutuhkan dana besar untuk membebaskan lahan. Dalam hal ini, pemprov harus berpikir ulang menghitung dananya,” lanjutnya.

“Sementara masyakarat sudah nyaman dengan tempat tinggalnya. Mereka hanya mengalami kebanjiran satu minggu atau dua minggu dalam setahun, sementara posisi rumah mereka sudah strategis,” ujarnya,

Agar masyarakat rela pindah dari tempat tinggalnya yang sekarang, pemerintah harus membangunkan apartemen yang lokasinya tidak jauh dari tempat mereka berusaha.

“Nanti kita bangunkan apartemen yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berusaha. Kalau 15 km, rasanya tidak terlalu jauh, karena transfortasi sudah bagus saat ini. Untuk 15 kilo, waktunya 1 jam, normal lah.”

“Karena perlu dibangun apartemen yang harganya sangat terjangkau oleh warga kurang mampu. Solusi lain adalah memberikan kompensasi kepada mereka yang dipindahkan untuk menempati apartemen.”

Cindar mengusulkan, Pengprov DKI bisa memberdayakan lahan-lahan milik swasta atau pemerintah yang tidak digunakan untuk dijadikan apartemen. Dengan cara itu, Jakarta yang lebih manusiawi bisa terjadi.

“Jangan sampai longsor yang terjadi di Jakarta Selatan, terulang di daerah lain. Itu bahaya. Itu terjadi karena mereka memakai garis sepandan sungai untuk mendirikan bangunan, sangat berbahaya sekali,” tandasnya. (kinoy)

No More Posts Available.

No more pages to load.