Enci Erna Pasrah, Toko Sepedanya Habis Dijarah Massa

oleh -35 views
Erna sekarang sudah bangkit, namun dia kadang menangis tiap kali mengingat aksi penjarahan yang menimpa dirinya.
Erna sekarang sudah bangkit, namun dia selalu menangis tiap kali mengingat aksi penjarahan yang menimpa dirinya.

KISAH KELAM TRAGEDI MEI 98

KANDIDATNEWS.COM – Pagi itu, Kamis 14 Mei, Erna terpaksa buka toko sepedanya di Sumur Batu, Jakarta Pusat. Padahal dia gak niat buka. Tapi karena udah janji ama Pak Haji yang pesen gerobak, dia terpaksa buka juga.

“Sebenernya, saya udah gak niat buka toko. Teman-teman udah bilang disuruh waspada setelah ada peristiwa di Tri Sakti (tertembaknya mahasiswa). Tapi karena udah janji sama Pak Haji, saya musti nepatin. Pak Haji marah kalau saya gak datang. Dia butuh sekali gerobak,” ujar Enci Erna, kemarin, di tokonya.

Urusan sama Pak Haji memang cuma sebentar. Erna pun berniat tutup toko, karena infonya bakal ada pergerakan massa besar-besaran di Jakarta.

“Belum sempat tutup toko, saya sempat kesal sama seorang pembeli laki-laki. Dia beli sepeda 12 unit, mau dititip dulu di toko. Saya gak mau. Dia ngotot. Saya tetap gak mau. Dia sempat pergi sebentar ke arah Pasar Sumur Batu. Tapi disuruh balik. Dia balik ke toko lagi dan mau ngerti kalo gak bisa titip sepeda, karena kondisi saat itu,” lanjutnya.

Kelar tutup toko, wanita Cina berkulit putih ini bergegas pulang. Baru sampai di Jalan Industri, dia dapat kabar, massa udah bergerak makin dekat.

“Dengkul saya langsung lemas. Saya gak bisa jalan,” ujarnya yang tinggal di Pademangan.

Setelah itu, Erna cuma dapat kabar dari seorang pelanggannya, kalo tokonya yang dua lantai, habis dijarah massa.

Dari orang-orang di sekitar toko, dia dikasih tau kalo yang menjarah tokonya ada satu orang yang dia kenal.

Erna tak bisa berbuat banyak, dia harus rela kehilangan seluruh isi tokonya yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

“Bukan cuma sepeda. Kabel listrik yang udah hitam aja, dijarah juga,” katanya sambil menahan tangis.

“Masih bagus toko nggak dibakar. Orang yang dagang nasi Padang di sebelah toko saya, berjuang mati-matian berusaha warungnya nggak dibakar. Toko saya akhirnya gak dibakar.”

“Saya sempat sekali datang ke toko untuk merapikan pintu yang rusak. Tapi sampai September, saya tutup toko. Kakak saya melarang buka toko dulu. Dia bilang, sampai kondisi normal, baru boleh buka toko lagi.”

“Kakak saya dan keluarga siap menopang perekonomian keluarga. Dia minta saya jaga toko sepedanya di Pangeran Jayakarta.”

Beruntung, lanjutnya, rekan-rekan bisnisnya menaruh kepercayaan penuh padanya.

“Saya bisa dagang lagi, tanpa harus keluar biaya. Saya ambil barang dulu, baru bayar setelah laku,” tukasnya.

Perlahan, Ibu dari dua orang anak ini berhasil bangkit. Kini tokonya dua kali lebih besar dari yang dijarah. Salon yang ada di sebelah kiri tokonya, kini sudah jadi miliknya. Dia juga mengontrak bangunan seluas 35 M2, khusus untuk menampung sepeda anak-anak.

Kini, ketika kondisi di Tanah Air lagi menghadapi masalah, mewabahnya virus Corona, muncul kekhawatiran di diri Erna. Dia khawatir kejadian 98 terulang lagi.

“Saya kepikiran kejadian 98. Mudah-mudahan ,nggak ada lagi jarah- jarahan,” ucap Erna, lirih.
Jadi Sahabat

Gw kenal Enci Erna setelah aksi penjarahan. Tugas kantor buat nyari korban kerusuhan Mei, yang bikin gw kenal. Dia orangnya baik.

Dari situ, kita jadi sahabat. Kalo gw mampir ke tokonya, dia selalu nanya macem- macem. Bukan cuma masalah kecil, persoalan politik dia juga mau tau.

Suaminya, anaknya, karyawannya jadi kenal gw. Saking deketnya, gw jadi gak enak kalo belanja di situ. Pasti harganya dikasih super beda. Kadang gw gak boleh bayar kalo beli perlengkapan sepeda yang kecil-kecil.

(Kinoy, mantan wartawan Harian Terbit)

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.