Dilarang Berjualan 2 Minggu, Pedagang Ikan Hias di Lapangan Jenderal Urip Pasrah

oleh -68 views
Agus (kiri), cuma bisa pasrah
Agus (kiri), cuma bisa pasrah

KANDIDATNEWS.COM – Bagaikan Mendengar Petir di Siang Bolong, Agus (32) langsung terpaku ketika temannya sesama penjual ikan hias di Lapangan Jenderal Urip Sumohardjo, Jatinegara, Jakarta Timur, memberitahukan kalau mereka ‘harus libur berdagang’ selama dua minggu ke depan, terhitung mulai Rabu, 25 Maret.

Tak lama berselang, dua anggota Koramil 01/Jatinegara memasang pengumuman tutup sementara untuk Pasar Ikan Hias Jatinegara, Jakarta Timur, selama dua pekan ke depan. Alasam utamanya, dalam upaya mengurangi penyebaran virus corona.

“Buat yang punya pekerjaan lain, enak. Saya gimana?” tukas Agus dengan wajah lesu.

Biar pun dia belum nikah, namun bocah Betawi kelahiran Jatinegara ini menjadi tulang punggung keluarganya. Dia harus menafkahi ibunya.

“Saya anak bontot. Kakak saya satu-satunya udah gak jelas kemana. Dia cuma pulang kalau lagi susah. Kadang bisa tiga tahun sekali. Udah gak dianggep anak dah,” ujarnya.

Sebelumnya dia sudah punya firasat Pasar Ikan Hias tempatnya berjualan tinggal menunggu waktu untuk ditutup. Soalnya, Pasar Tanah Abang yang begitu besar harus tutup karena wabah corona.

“Pasar Tanah Abang yang segede gitu aja harus tutup, apalagi kita di sini. Terbukti dah, mulai besok kita gak dagang,” lanjutnya seraya menyalakan lagi sebatang rokok untuk menghilangkan stress karena harus stop berdagang dulu.

Narik Mobil Online

Sebelum berdagang di Lapangan Jenderal Urip Sumohardjo, lelaki bertubuh kecil tinggi ini sempat berjualan selama 11 tahun di tempat yang lama, di sebuah gang kecil, tak jauh dari Lapangan Jenderal Urip.

“Dari taon 2000 sampai 2011, saya dagang ikan di Pasar Mede, Jalan Kemuning, Jatinegara. Di situ, gak nyaman. Gak enak lah.”

Di Lapangan Jenderal Urip, Agus dibantu rekannya untuk memakai kios. Sebulan dia hanya dikenakan sewa lapak, komplit dengan perlengkapannya sebesar Rp250 ribu.

“Ini lapak teman saya. Sebulan saya hanya punya kewajiban bayar sewa Rp250 ribu. Sehari-hari untuk bayar keamanan, kebersihan, listrik, air, makan, dll, paling sekitar Rp80 ribu, sampai Rp90 ribu. Kalau sekarang tutup sementara, paling saya narik angkot lagi,” lanjutnya.

Agus bercerita, setelah tak berdagang ikan hias, dia sempat narik mobil online selama 2,5 tahun (Grab dan Gocar). Sehari dia minimal bisa dapat Rp700 ribu. Masa itu, merupakan masa jaya-jayanya. Tapi karena pola hidupnya yang boros, uang yang diperolehnya menguap begitu saja.

“Maklum anak muda, punya uang langsung foya-foya. Punya uang banyak, abis begitu aja.”

Kena Imbas Corona

Setelah tak lagi bisnis jual beli mobil online, Agus mencoba peruntungan lain. Dia alih profesi narik angkot. Ketika itu dia mengemudikan Mikrolet 01, Kampung Melayu – Senen.

“Ternyata kebahagiaan saya ada di ikan hias. Saya berhenti narik angkot. Sejak empat bulan lalu, dia kembali berdagang ikan hias.

“Selama empat bulan terakhir, saya dapat rejeki lumayan. Sehari omzet bisa dapat sekitar Rp1 juta. Dari situ saya kebagian untung 35 persen. Alhamdulilah dah,” ujarnya bersyukur.

Tapi sejak seminggi lalu, omzetnya menurun sekitar 40 persen gara-gara wabah corona masuk ke Indonesia dan Jakarta menjadi daerah terbanyak yang waeganya positif corona.

“Kalau lagi dagangan banyak, ikannya bervariasi, pembeli pada antre. Kayak orang berobat di puskesmas,” tukasnya berkelakar.

“Tapi sejak minggu lalu, pembeli yang datang berkurang sekitar 70 persesn, sementara keuntungan makin kecil. Sehari udah bagus kalau dapat Rp200 rebu.”

Dia kasihan pada teman-temannya yang punya tanggungan keluarga. Waktu dua minggu bukan sebentar, sementara keluarga harus dikasih makan, dll.

Selama dua minggu, para pedagang diperbolehkan datang untuk mengurusi ikan-ikannya, namun Pasar Ikan Hias Lapangan Jenderal Urip tertutup untuk umum.

“Pedagang di sini sekitar 100 orang. Moga-moga wabah corona cepet pergi. Biar kita bisa usaha lagi,” pinta Agus masih dengan wajah memelas.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.